Kedudukan Manusia dan Ilmu Pengetahuan Perspektif Pendidikan Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pemikiran tentang hakikat manusia
sejak zaman dahulu kala sampai zaman modern sekarang ini juga belum berakhir
dan munkin tak akan pernah berakhir. Ternyata orang menyelidiki manusia itu
dari berbagai sudut pandang. Ada yang menyelidiki manusia dari segi fisik yaitu
antropologi fisik, adapula yang menyelidiki dengan sudut pandang budaya yaitu
antropologi budaya. Sedangkan yang menyelidiki manusia dari sisi hakikatnya disebut
antropologi filsafat.
Memikirkan dan membicarakan hakikat
manusia inilah yang menyebabkan orang tak henti-hentinya berusaha mencari
jawaban yang memuaskan tentang pertanyaan yang mendasar tentang manusia itu
sendiri, yaitu apa dari mana dan mau kemana manusia itu.
Oleh karena itu pada makalah ini
kami akan membahas tentang hakikat manusia dalam filsafat pendidikan islam yang
meliputi hakikat Allah menciptakan manusia, apa hakikat manusia, mengapa
manusia memerlukan pendidikan, dan mengapa manusia bisa di didik. Semoga dengan
pembhasan ini dapat menambah wawasan bagi kita dalam memahami hakikat diri kita
sebagai manusia di muka bumi ini.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan Hakikat Manusia ?
2.
Apa
pandangan Islam tentang Hakikat Manusia ?
3.
Apa
yang dimaksud dengan Hakikat Pendidikan ?
4.
Apa
Implikasi Konsep Manusia dalam Pendidikan Islam ?
5.
Apa
Kedudukan Manusia dan Ilmu Pengentahuan dalam Perspektif Pendidikan Islam ?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui Hakikat Manusia
2.
Untuk
mengetahui Pandangan Islam tentang Hakikat Manusia
3.
Untuk
mengetahui Hakikat Pendidikan
4.
Untuk
mengetahui Implikasi Konsep manusia dalam pendidikan Islam
5.
Untuk
mengetahui kedudukan Manusia dan Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Pendidikan
Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Manusia
a) Pengertian Hakikat Manusia
Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang
sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu
adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Dikalangan
tasawuf orang mencari hakikat diri manusia yang sebenarnya, karena itu muncul
kata-kata diri mencari sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari
hakikat jasad, hati, roh, nyawa, dan rahasia.
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah
swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan
tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini.Dikitab suci menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Jadi hakekat manusia adalah kebenaran atas diri
manusia itu sendiri sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
a.
Manusia
Menurut Manusia
Socrates
mengatakan bahwa belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia. Kalimat
ini sangat mendasar. Manusia mengatur dirinya, ia membuat peraturan untuk itu;
manusia mengatur alam dan ia membuat aturan untuk itu. Manusia mengurus dirinya
dan alam berdasarkan manusia itu sendiri. Manusia adalah sentral segalanya.
Jadi, wajar jika manusia mestinya mengenali siapa manusia itu sebenarnya.
Socrates (470-399 SM), orang Athena, mengungkapkan tentang pemikirannya
tentang manusia di hadapan murid-muridnya. Sarlito (1978:30) mencatat sebagian
pendapat Socrates tentang manusia. Dikatakan antara lain bahwa pada diri
manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dunia. Menurut Socrates,
manusia itu bertanya tentang dunia dan masing-masing mempunyai jawaban tentang
dunia. Tetapi, demikian Socrates, sering kali manusia itu tidak menyadari bahwa
dalam dirinya terpendam jawaban-jawaban bagi persoalan yang dipertanyakannya.
Karena itu perlu ada orang lain yang membantu orang itu melahirkan ide yang ada
dalam manusia tersebut.
Plato
adalah salah seorang murid Socrates. Dilahirkan dari keluarga
terpandang di ibu Kota Yunani, Athena. Ia meninggal tahun 347 SM. Di masa
hidupnya ia menikmati kemakmuran ekonomi, kemajuan perdagangan, dan sistem
pemerintahan demokratis.
Menurut
Plato, jiwa manusia adalah entitas non-material yang dapat terpisah dari tubuh.
Menurutnya, jiwa itu ada sejak sebelum kelahiran, jiwa itu tidak dapat hancur
alias abadi. Lebih jauh Plato mengatakan bahwa hakikat manusia itu ada dua
yaitu rasio dan kesenangan (nafsu).
Pada
bagian lain Plato berteori bahwa jiwa manusia memiliki tiga elemen, yaitu roh,
nafsu dan rasio. Dalam operasinya, dia mengandalkan roh itu sebagai kuda putih
yang menarik kereta bersama kuda hitam (nafsu), yang dikendalikan oleh kusir
yaitu rasio yang berusaha mengontrol laju kereta.
Berdasarkan
pendapat Plato ini maka program pendidikan haruslah membantu rasio dalam
mengendalikan kereta tersebut.
Dalam
hal hidup bermasyarakat, Plato berpendapat bahwa hidup bermasyarakat itu
merupakan keharusan bagi manusia; manusia tidak dapat hidup sendirian.
Seseorang yang hidup di pulau sendirian akan sulit hidup, karena aktivitas
kemanusiaan seperti persahabatan, bermain, seni, polotik, dan berpikir tidak
terjadi di pulau itu. Implikasi teori ini ialah manusia itu harus memiliki
bakat dan minat yang berbeda antara seorang dengan lainnya, dan dari situ akan
muncul spesialisasi dan pembagian kerja.
Berdasarkan
tiga unsur hakikat manusia,Plato membagi manusia menjadi tiga kelompok. Pertama,
manusia yang didominasi oleh rasio yang hasrat utamanya ialah meraih
pengetahuan; kedua, manusia yang didominasi roh yang hasrat utamanya
ialah meraih reputasi, dan ketiga, manusia yang didominasi nafsu yang
hasrat utamanya pada materi. Tugas rasio adalah mengontrol roh dan nafsu.
Rene Descartes (1596-1650) adalah filosof Perancis. Ia amat menekankan rasio pada manusia.
Jadi, sama dengan Plato. Descartes berpendapat bahwa ada dua macam tingkah
laku, yaitu tingkah laku mekanis yang ada pada binatang dan tingkah laku
rasional yang ada pada manusia. Ciri rasional pada tingkah laku manusia ialah
ia bebas memilih, pada hewan kebebasan itu tidak ada. Karena bebas memilih itulah
maka pada manusia ada tingkah laku yang mandiri.
Dalam
proses pemilihan itu rasio emegang peranan penting. Bahkan lebih dari itu
Descrates berpendapat bahwa berpikir itu sangat sentral dalam manusia, manusia
menyadari keberadaannya karena ia berpikir (cogito ergo sum). Sebagai penganut
Rasionalisme yang sangat fanatik Descrates hanya menyakini bhwa yang ada itu
hanyalah dirinya sendiri karena satu-satunya yang ia ketahui adalah dirinya
sendiri; ia memang melihat benda atau orang lain, tetapi ia tidak yakin benda
atau orang itu benar-benar ada seperti adanya dirinya. Ia meragukan segala
sesuatu di luar dirinya.
Sarlito (1978) mencacat pendapat Descrates yang mengatakan bahwa manusia memiliki
emosi yang muncul dalam berbagai kombinasi yaitu cinta (love), gembira (joy),
keinginan (desire), benci (rage), sedih (sorrow), dan kagum (wonder). Yang
terpenting dalam pemikiran Descrates ialah pendapatnya tentang posisi sentral
akal (rasio) sebagai esensi (hakikat manusia).
Thomas
Hobbes (1588-1629) adalah tokoh
aliran Empirisme yang terkenaal dengan teori mekanis dalam psikologi. Dalam
teori mekanisnya ia mengatakan bahwa dalam tingkah laku ada dasar dan ada
tujuan. Dua motivasi dasar ialah keinginan untuk mendekati dan kecenderungan
untuk meninggalkan. Ia mengatakan bahwa tujuan tingkah laku adalah untuk
kepentingan diri sendiri. Ia mengatakan bahwa pada hakikatnya semua orang
bersifat mementingkan diri sendiri, dalam memeuhi kepentingan diri sendiri itu
justru manusia terpaksa mengakui hak-hak orang lain.
John
Locke (1623-1704) adalah filosof
Inggris cukup terkenal. Padanya yang terkenal ialah teori tabula rasa yang
mengatakan bahwa jiwa manusia itu saat dilahirkan laksana kertas bersih
(istilahnya meja lilin), kemudian diisi dengan pengalaman-pengalaman yang
diperoleh dalam hidupnya. Pengalamanlah yang paling menentukan jeadaan
seseorang. Menurut paham ini pendidikan sangat berpengaruh pada seseorang.
Immanuel
Kant (1724-1804) adalah filosof besar dunia. Dia orang Jerman. Menurut
Kant manusia tidak akan mampu mengenali dirinya sendiri. Manusia mengenali
dirinya berdasarkan apa yang tampak (baik secara empiris maupun secara batin).
Pendapat
Kant yang penting bagi dunia pendidikan ialah pendapatnya yang mengatakan bahwa
manusia adalah makhluk rasional, manusia itu bebas bertindak berdasarkan alasan
moral, manusia bertindak bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Jadi,
tatkala manusia akan bertindak ia mesti memiliki alasan melakukan tindakan itu.
Ini pada hewan tidak ada, kata Kant. Alasan-alasan tindakan ini ia tulis dalam
filsafat praktisnya yang sangat terkenal.
b.
Manusia
Menurut Tuhan
Menurut
Al-Qur’an, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, manusia itu berasal dan
datang dari Tuhan. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia itu mempunyai unsur
jasmani (material).
Akal
adalah salah satu aspek penting dalam hakikat manusia. Harun Nasution
(1982:39-48) menjelaskan bahwa ada tujuh kata yang digunakan al-Qur’an untuk
mewakili konsep akal. Pertama kata nazara, seperti di dalam surat Qaaf ayat
6-7, surat al-Thaariq ayat 5-7, al-Ghasiyah 17-20. Kedua kata tadabbara, sepeti
dalam surat shaad ayat 29, surat Muhammad ayat 24. Ketiga kata tafakkara,
seperti di dalam surat al-Nahl ayat 68-69, al-Jatsiyah ayat 12-13. Keempat kata
faqiha, kelima kata tadzakkara, keenam kata fahima, dan ketujuh kata ‘aqala.
Kata-kata itu semua menunjukkan bahwa al-Qur’an mengakui akal adalah aspek
penting dalam hakikat manusia.
Akal adalah alat untuk berpikir. Jadi, salah satu hakikat manusia
ialah ia ingin, ia mampu, dan ia berpikir. Aspek lainnya ialah ruh atau ruhani.
Penjelasan al-Qur’an tentang aspek ini terdapat di dalam al-Qur’an antara lain
dalam surat al-Hijr ayat 29. Ayat yang sama terdapat di dalam surat Shaad ayat
72. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa manusia memiliki ruh. Dan ruh itu adalah
unsur hakiki pada manusia.
Al-Syaibani (1979-130) menyatakan bahwa manusia memiliki tiga
potensi yang sama pentingnya yaitu jasmani, akal dan ruh. Muhammad Quthb
(1988-31) menyatakan bahwa eksistensi manusia ialah jasmani, akal. Dan ruh;
ketiganya menyusun manusia menjadi satu kesatuan.
Hakikat
manusia menurut al-Qur’an ialah bahwa manusia itu terdiri atas unsur jasmani,
akal, dan ruhani. Ketiganya sama pentingnya untuk dikembangkan, demikian kata
Al-Syaibani.
b) Wujud dan Potensi Manusia.
Wujud Manusia. menurut penganut aliran Materialisme
yaitu Julien de La Mettrie bahwa esensi
manusia semata-mata bersifat badani, esensi
manusia adalah tubuh atau fisiknya. Sebab itu, segala hal yang
bersifat kejiwaan, spiritual atau rohaniah dipandangnya hanya
sebagai resonansi dari berfungsinya badan
atau organ tubuh. Tubuhlah yang mempengaruhi jiwa. Contoh: Jika ada
organ tubuh luka muncullah rasa sakit. Pandangan hubungan
antara badan dan jiwa seperti itu
dikenal sebagai Epiphenomenalisme (J.D. Butler, 1968). Bertentangan
dengan gagasan Julien de La Metrie, menurut
Plato salah seorang penganut aliran Idealisme -bahwa
esensi manusia bersifat kejiwaan/spiritual/rohaniah.
Memang Plato tidak mengingkari adanya
aspek badan, namun menurut dia jiwa
mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada badan.
B.
Pandangan Islam Tentang Hakikat Manusia
Islam berpandangan bahwa hakikat manusia ialah manusia itu
merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan
suubtansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung adanya orang lain. Islam
secara tegas mengatakan bahwa kedua subtansi (unsur asal sesuatu yang ada)
dua-duanya adalah subtansi alam. Sedang alam adalah mahluk. Maka keduanya juga
mahluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Dibawah ini dikutipkan sebuah ayat suci Al-Quran dan sebuah Hadis
Nabi Muhammad SAW yang menguraikan tentang proses kejadian manusia.
Dalam Al-Quran Allah berfirman:
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami ciptakan manusia dari sari tanah. Kemudian
Kami jadikan sari tanah itu air mani (terletak) dalam tempat simpanan yang
teguh (rahim), kemuidian dari air mani itu Kami ciptakan segumpa darah lalu
segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan dari segumpal daging dan
dari daging segumpal itu Kami ciptakan tulang belulang. Kemudain tulang
belurang itu Kami tutup (balut) dengan daging. Sesudah itu Kami jadikan dia
mahluk yang baru yakni manusia yang sempurna. Maka Maha berkat (suci Allah)
Pencipta yang paling baik. (Al-Quran: Surat Al-Mukminun: 12-14).
Kemudian Nabi Muhammad SAW, mengulas ayat suci tersebut dengan
sabdanya:
Artinya:
Bahwasanya seseorang kamu dihimpunka kejadiannya di dalam perut ibu
selama 40 hari, kemudian merupakan alaqah (segumpal darah) seumpama demikian
(selama 40 hari), kemudian merupakan mudgatan (segumpal daging) seumpama
demikian (selama 40 hari). Kemudian Allah mengutus seorang malaikat, maka
diperintahkan kepadanya (malaikat) empat perkataan dan dikatakan kepada
malaikat engkau ttuliskanlah amalannya, dan rezekinya dan ajalnya, dan celaka
atau bahagiannya. Kemudian ditiupkanlah kepada mahluk itu ruh. (HR. Bukhari).
Dari Al-Quran dan Hadis di atas, jelaslah bahwa proses perkembangan
dan pertumbuhan fisik manusia, tidak ada bedanya dengan proses dan perkembangan
dan pertumbuuhan pada hewan. Semua berproses menurut hukum-hukum alam yang
material. Hanya pada kejadian manusia, sebelum mahluk yang disebut manusia itu
dilahirkan dari rahim ibunya, Allah telah meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam
tubuh manusia. Ruh yang berasal dari Allah itulah yang menjadi hakikat manusia.
Inilah yang membedakan manusia dengan hewan, karena Allah tidak meniupkan ruh
pada hewan.
Terlihat pula bahwa pendirian di Islam bahwa manusia terdiri dari
dua subtansi yaitu materi yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari
Tuhan. Maka hakikat pada manusia itu adalah ruh itu, sedangkan jasadnya hanya
alat yang dipergunakan oleh ruh untuk menjalani kehidupan material di alam yang
material bersifat sekunder dan ruh adalah yang primer, karena ruh saja tanpa
jasad yang material, tidak dapat dinamakan manusia. Malaikat adalah mahluh
ruhaniyah (bersifat ruh semata) tidak memiliki unsur jasad yang material.
Tetapi sebliknya unsur jasad yang material saja tanpa ruh, maka juga bukan
manusia namanya. Hewan adalah mahluk yang bersifat jasad material yang hidup.
Pertama-tama memang manuisa sebagai mahlluk alamiah yang mempunyai
sifat dan ciri-ciri sebagaimana mahluk alamiah lainnya, yang terkait dengan
hukum-hukum alamiah. Dalam diri manusia terdapat unsur-unsur alam, ada unsur
benda-benda mati, ada unsur-unsur tumbuh-tumbuhan (manusia mempunyai sigat
tumbuh dan berkembang), ada unsur-unsur hewani, dengan kemampuan gerak,
mempunyai nafsuo, instink, dan sebagainya. Tetapi manuisa lebih dari itu.
Manusia secar fisik mempunyai bentuk yang lebih baik, lebih indah, lebih
sempurna. Secara lami, manusia menjadi mahluk yang paling tinggi.
a
Arti
pendidikan
Orang-orang yunani, lebih kurang 600 tahunsebelum masehi, telah
menyatakan bahwa pendidikan ialah usaha membantu manusia menjadi manusia. Ada
dua kata yangpenting dalam kalimat itu, pertama “ membantu” dan kedua
“manusia”.
Manusia dibantu agar ia menjadi manusia. Seseorang dapat dikatakan
telah menjadi manusia bila telah meimiliki (sifat) kemanusiaan. Itu menunjukkan
bahwa tidaklah mudah menjadi manusia. Karena itulah sejak dahulu banyak manusia
gagal menjadi manusia. Jadi tujuan mendidik ialah me-manusia-kan manusia. Agar
tujuan itu dapat dicapai dan agar program dapat disusun maka ciri-ciri manusia
yang telah menjadi manusia itu haruslah jelas.
Seperti apakah kriteria manusia yang menjadi tujuan pendidikan itu?
Tentulah hal ini akan ditentukan oleh filsafat hidup masing-masing
orang.orang-orang yunani lama itu menetapkan tiga syarat untuk disebut manusia.
Pertama, memiliki kemampuan dalam
mengendalikan diri; kedua, cinta
tanah air; dan ketiga berpengetahuan.
Manusia yang mnjadi tujuan pendidikan itu harus memiliki
pengetahuan yang tinggi. Intinya ialah orang harus berpikir benar. Mendengar inimungkin
akan ada orang yang bertanya, apa ada orang yang berpikur tidak benar. Banyak,
orang gila misalnya. Orang yang sudah kuat secara ekonomi, tetapi masih mencuri
atau korupsi juga, jelas itu orang yang tidak mampu berfikir benar. Orang
seperti itu sebenarnya sejenis orang gila, ia orang yang sakit jiwa. Orang
yunani beranggapan berfikir secara filsafat adalah latihan terbaik untuk mampu
berfikir benar.
Yang diatas itu adalah aspek pertama pendidikan yaitu tentang
konsep manusia . konsep itu masih layak dipakai sekarang (jadi, orang yang
melakukan korupsi itu tidak dapat dikategorikan sebagai manusia) . Aspek
pendidikan yang kedua ialah menolong, bukan mencetak atau mewujudkan? Ya,
karena pendidikan mengetahui bahwa pada manusia itu ada potensi yang dapat dikembangkan untuk
menjadi manusia. Pada setiap manusia itu ada potensi untuk menjadi manusia.
Tapi, ada juga potensi untuk menjadi bukan manusia, menjadi bintang misalnya.
Teori inilah yang dapat menjelaskan mengapa orang yang di didik itu ada juga yang
gagal menjadi manusi. Misalnya, ada beberapa tamatan perguruan tinggi yang
punya sifat ingin menang sendiri (ini bukan sifat manusia), ada juga yang sudah
kaya tapi tetep korupsi (ini juga bukan sifat manusia), walaupun kemiskinan
bukan alasan untuk melakukan korupsi.
Pendidik berpendapat batu tidak mungkin ditolong menjadi manusia,
karena batu tidak memiliki potensi menjadi manusia. Dari sinilah pendidik
mengetahui bahwa dalam mendidik pendidik itu haris mengetahui potensi-potensi
anak didiknya. Ini bidang psikologi karena itu pendidik yang baik tentu
mengetahui psikologi mengenai potensi-potensi itu.
Kata “menolong” juga menegaskan bahwa perbuatan mendidik itu hanya
sekedar menolong. Jadi, pendidik jauh sebelum berbuat telah mengetahui bahwa
muridnya itu nanti ada yang akan berhasil dan ada yang tidak
D.
Implikasi konsep manusia dalam pendidikan Islam
Para ahli pendidikan muslim umumnya sependapat bahwa teori dan
praktek kependidikan islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang
manusia. Pembicaraan diseputar persoalan ini adalah merupakan sesuatu yang
sangat vital dalam pendidikan. Tanpa kejelasan tentang konsep ini, pendidikan
akan meraba-raba. Bahkan menurut Ali Ashraf, pendidikan islam tidak akan
difahami secara jelas tanpa terlebih dahulu memahami penafsiran islam tentang
pengembangan individu seutuhnya.
Dari uraian tersebut, paling tidak ada 2 (dua) implikasi terpenting
dalam hubungannya dengan pendidikan islam, yaitu :
1.
Karena
manusia adalah makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan
immateri), maka konsepsi itu menghendaki proses pembinaan yang mengacu kearah
realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini bahwa sistem
pendidikan islam harus dibangun diatas konsep kesatuan (integrasi) antara
pendidikan Qalbiyaah dan ‘Aqliyah sehingga mampu menghasilkan
manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Jika
kedua komponen itu terpisah atau dipisahkan dalam proses kependidikan Islam,
maka manusia akan kehilangan keseimbangannya dan tidak akan pernah menjadi
pribadi-pribadi yang sempurna (al-insan al-kamil).
2.
Al-Qur’an
menjelaskan bahwa fungsi penciptaan
manusia dialam ini adalah sebagai Khalifah dan ‘Abd. untuk
melaksanakan fungsi ini Allah SWT. Membekali manusia dengan seperangkat
potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan islam harus merupakan upaya yang
ditujukan kearah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal
sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk kronkrit. Dalam arti berkemampuan
menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya
sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai Khalifah maupun
‘Abd.
Kedua hal
diatas harus acuan dasar dalam menciptakan dan mengembangkan sistem pendidikan
islam masa kini dan masa depan. Fungsionalisasi pendidikan islam dalam mencapai
tujuannya sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan umat islam
menterjemahkan dan merealisasikan konsep penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya
dalam alam semesta ini.
Agar pendidikan
umat berhasil dalam prosesnya, maka konsep penciptaan manusia dan fungsi
penciptaannya dalam semesta harus sepenuhnya diakomodasikan dalam perumusan
teori-teori pendidikan islam melalui pendekatan kewahyuan, empirik keilmuan dan
rasional filosofis. Dalam hal ini harus difahami pula bahwa pendekatan keilmuan
dan filosofis hanya merupakan media untuk menalar pesan-pesan tuhan yang
absolut, baik melalui ayat-ayat-Nya yang bersifat tekstual (Qur’aniyah)maupun ayat-ayat-Nya yang
bersifat tekstual (Kauniyah) yang
telah dijabarkan-Nya melalui sunnatullah.
E.
Kedudukan Manusia dan Ilmu Pengetahuan Perspektif Pendidikan Islam
Manusia tidak lebih dari suatu bagian alam bendawi yang
mengelilinginya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terjadi pada diri manusia
pun dapat diterangkan seperti cara-cara yang terjadi pada kejadian-kejadian alamiah,
yaitu secara mekanis. Manusia itu hidup selama darahnya beredar dan jangtungnya
bekerja, yang disebabkan pengaruh mekanis dari hawa atmosfir. Dengan demikian,
manusia yang hidup tiada lain adalah manusia yang anggota tubuhnya bergerak.
Dalam Islam, manusia itu-walaupun secara fisik (mekanis) telah mati-jiwanya
tetap hidup. Bahkan, bagi seorang mukmin, kematian adalah lanjutan hidup yang
kekal dan abadi. (Atang Abdul Hakim, 2007:345)
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang telah diketahui. Cara
mengetahui sesuatu dapat dilakukan dengan mendengar, melihat, merasa, dan
sebagainya yang merupakan bagian dari alat indra manusia. Semua pengetahuan
yang didasarkan secara indrawi dapat dikategorikan sebagai pengetahuan empirik,
artinya pengetahuan yang bersumber dari pengetahuan. Oleh karena itu,
pengalaman menjadi bagian penting dari seluk beluk adanya pengetahuan, yang
secara filosofis menjadi bagian dari kajian epistemologis.
Setiap manusia memiliki pengetahuan karena setiap manusia pernah
mengalami sesuatu, dan setiap pengalamannya dapat dijadikan landasan berpikir
dan bertindak. Dengan demikian, pada umumnya, manusia memiliki pengetahua. Akan
tetapi, karena setiap manusia memiliki pengalaman yang berbeda-beda, tentu
dalam menyelesaikan masalahnya, bersumber kepada pengalaman yang beragam,
sehingga pengetahuan pun menjadi semakin banyak.
Salah satu pengetahuan manusia bersumber dari pengalaman.
Pengalaman merupakan pengetahuan yang sangat berharga. Oleh karena itu, dalam
filsafat, ada yang berpandangan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan
yang utama, dan inilah yang kemudian melahirkan empirisme. Empirsme adalah
salah satu aliran dalam filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam
memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan
akal. Istilah Empirisme diambil dari bahasa Yunani, empeiria yang berarti
coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan
rasionalisme. (Ahmad Syadali, 2004:116)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang
sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu
adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Dikalangan
tasawuf orang mencari hakikat diri manusia yang sebenarnya, karena itu muncul
kata-kata diri mencari sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari
hakikat jasad, hati, roh, nyawa, dan rahasia.
Islam berpandangan bahwa hakikat manusia ialah manusia itu
merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan
suubtansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung adanya orang lain. Islam
secara tegas mengatakan bahwa kedua subtansi (unsur asal sesuatu yang ada)
dua-duanya adalah subtansi alam. Sedang alam adalah mahluk. Maka keduanya juga
mahluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Orang-orang yunani, lebih kurang 600 tahunsebelum masehi, telah
menyatakan bahwa pendidikan ialah usaha membantu manusia menjadi manusia. Ada
dua kata yangpenting dalam kalimat itu, pertama “ membantu” dan kedua
“manusia”.
Para ahli pendidikan muslim umumnya sependapat bahwa teori dan
praktek kependidikan islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang manusia.
Pembicaraan diseputar persoalan ini adalah merupakan sesuatu yang sangat vital
dalam pendidikan. Tanpa kejelasan tentang konsep ini, pendidikan akan
meraba-raba. Bahkan menurut Ali Ashraf, pendidikan islam tidak akan difahami
secara jelas tanpa terlebih dahulu memahami penafsiran islam tentang
pengembangan individu seutuhnya.
Manusia tidak lebih dari suatu bagian alam bendawi yang
mengelilinginya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terjadi pada diri manusia
pun dapat diterangkan seperti cara-cara yang terjadi pada kejadian-kejadian
alamiah, yaitu secara mekanis. Manusia itu hidup selama darahnya beredar dan
jangtungnya bekerja, yang disebabkan pengaruh mekanis dari hawa atmosfir.
Dengan demikian, manusia yang hidup tiada lain adalah manusia yang anggota
tubuhnya bergerak. Dalam Islam, manusia itu-walaupun secara fisik (mekanis)
telah mati-jiwanya tetap hidup. Bahkan, bagi seorang mukmin, kematian adalah
lanjutan hidup yang kekal dan abadi. (Atang Abdul Hakim, 2007:345)
DAFTAR PUSTAKA
Arifin Muzayyin,
Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 2004
Basri Hasan, Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka
Setia. 2014
Tafsir Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Rosda
Karya. 2006
Rujukan dari Internet :
http://subliyanto.blogspot.co.id/2010/04/hakikat-manusia-dalam-filsafat-islam.html
http://hanggaaksara.blogspot.co.id/2015/03/pengertian-hakekat-manusia.html
Komentar
Posting Komentar